Tampilkan postingan dengan label sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sufi. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2016

IBN ‘ARABĪ DAN DOKTRIN WAHDAT AL-WUJŪD

Di antara para tokoh-tokoh sufi yang tersohor, yakni tokoh sufi yang bernama Ibn ‘Arabī, dalam jajaran tokoh sufi, nama Ibn ‘Arabī selalu disebut-sebut sebagai tokoh kontroversial. Popularitas Ibnu ‘Arabī sebagai sosok sufi ini karena pandangannya yang sama sekali berbeda dengan kebanyakan tokoh agama sezamannya, apalagi kalau dibandingkan dengan pandangan ahli syariat. Doktrinnya tentang wahdat al-wujūd oleh sebagian orang juga dianggap sebagai panteistik bahkan dianggap kafir dan sesat. Ada dugaan kuat bahwa pemikiran dan perenungan wahdat al-wujūd Ibn ‘Arabī ini dipengaruhi oleh mistik India dalam doktrin “Brahmana” dan teori emanasi Plotinus yang panteistik. Juga ada yang menyebutnya bersumber dari paham stoisme, filonisme, neoplatonisme, Ismailiyyat dan meditasi-meditasi gnostik al-Hallāj. Tetapi, sejauhmana ide-ide itu begitu berpengaruh terhadap diri Ibn ‘Arabī ataukah ia memiliki formulasi sendiri inilah yang perlu kita lihat. Tulisan ini bermaksud membahas  doktrin wahdat al-wujūd Ibnu ‘Arabī  itu. Selengkapnya klik...http://ejournal.kopertais4.or.id/index.php/elhikam/article/view/1898
Share:

MEREGUK SARIPATI ISLAM MELALUI TASAWUF

BEBERAPA ISTILAH untuk menyebut kata tasawuf / sufi dalam kajian kontemporer yang sering kita dengar saat ini seperti Urban Sufism (Sufi Kota), New Age Movment. Untuk melihat fenomena ini berdasarkan istilah tersebut perlu diuraikan bahwa pada mulanya belajar tasawuf adalah jalan menyucikan diri—sebagaimana makna ”sufi” yang berasal dari kata ”safa” yang berarti kesucian. Mereka memperbanyak zikir, puasa, menggenapi salat sunah, dan belajar hidup sederhana (zuhud). Bagi yang lebih serius, mereka berkhalwat (menyepi) ke luar kota selama beberapa hari untuk berzikir. Ada pula yang menekuni tarian Rumi (whirling dervishes), atau berguru pada seorang mursyid (guru) di sebuah kelompok tarekat.
Namun berbeda dengan awal mula belajar tasawuf tersebut terdapat kelompok besar dari kalangan anak muda ini memilih belajar dari lembaga yang kini bertebaran ”menjajakan” tasawuf. Cukup membayar dengan tarif tertentu, tanpa perlu masuk tarekat, mereka bisa menyelami pikiran para pejalan sufi. Fenomena ini sering kita lihat dikalangan masyarakat kota, demikian ini terjadi disebabkan oleh beberapa hal pertama, sufisme diminati oleh masyarakat perkotaan karena menjadi sarana pencarian makna hidup; kedua, sufisme menjadi sarana pergulatan dan pencerahan intelektual; ketiga, sufisme sebagai sarana terapi psikologis; dan keempat, sufisme sebagai sarana untuk mengikuti trend dan perkembangan wacana keagamaan. Selengkapnya ... Jurnal El-Hikam Vol 3 Nomor 2 Tahun 2010
Share:

Recent Posts

Labels