Tampilkan postingan dengan label Islam Sasak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Sasak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Agustus 2016

TANTANGAN KEHIDUPAN BERAGAMA DI LOMBOK

Lombok dikenal dengan sebutan pulau “1000 masjid”, sebagai pertanda bahwa masyarakatnya sangat fanatik dalam menjalankan ajaran agama Islam. Indikasi ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah masjid dan mushalla, serta maraknya pengajian-pengajian (majlis ta‘līm) yang disampaikan oleh tuan guru di daerah tersebut. Namun demikian, predikat sebagai masyarakat religius yang fanatik bukan berarti tidak ada tantangan dalam kehidupan beragama. Dari tinjauan agama dan kepercayaan, masyarakat Lombok didiami oleh masyarakat yang heterogen. Hampir semua agama yang diakui di Indonesia ada di Lombok walaupun dengan jumlah yang sangat kecil. Keberadaan agama-agama dan kepercayaan tersebut seharusnya bisa menjadi modal social (social capital) di dalam membangun masyarakat Nusa Tenggara Barat yang BerdayaSaing. Secara umum, tantangan di dalam kehidupan beragama ini biasanya muncul di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk konflik dan ketegangan-ketegangan, baik yang terjadi antar umat beragama, maupun dengan umat yang seagama.  Selengkapnya klik...http://ejournal.kopertais4.or.id/index.php/elhikam/article/view/1886

Share:

KEMANA ISLAM LOKAL-KU: ISLAM SASAK SEBAGAI LOCAL GENIUS



Judul Buku          : Islam Lokal: Akulturasi Islam di Bumi Sasak
Penulis                 : M. Ahyar Fadly
Penerbit              : STAIIQ Press
Tahun                   : 2008
Cetakan               : Pertama

AGAMA apapun yang datang ke dunia tidak memasuki ruang vakum budaya. Ungkapan Komaruddin Hidayat ini dalam tulisannya Ketika Agama Menyejarah adalah sangat wajar sekali, karena bilamana Islam lahir di Jazirah Arabia, saat itu pula sudah berkembang dan mengakar keyakinan-keyakinan agama dari pada nabi sebelumnya. (hlm. xiii) Demikian pula halnya, ketika Islam mengaliri setiap benua, pulau dan pada akhirnya sampai ke Tanah Sasak pada abad ke-16, Islam tidak datang sebagai tsunami yang menghanyutkan segala apa di hadapannya dan bukan sebagai api yang membakar segala sesuatu menjadi abu tanpa adanya pertanyaan. Islam hadir bagai sungai yang mencari liukan dan kelokan ketika terbentur dengan bebatuan besar yang keras, yang walau terkadang melompati dan membasahinya; Islam ada hanya untuk mensejahterakan semesta (rahmatan lil’ālamīna) dan meneduhkan setiap hati dan jiwa yang memandangnya. Selengkapnya klik...http://ejournal.kopertais4.or.id/index.php/elhikam/article/view/1891
Share:

Recent Posts

Labels